Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah falsafah al-qur’an Dosen Pengampu: Dr. Ahmad munir Oleh: Hisyam Humaidi As’ad ( 210410018 ) JURUSAN USHULUDDIN PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PONOROGO 2014
BUDAYA
Pendahuluan
Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan kepada manusia. Tujuan utama diturunkannya al-Quran adalah sebagai kitab petunjuk yang meliputi bidang akidah, syariah dan akhlak. Akan tetapi di luar ketiga petunjuk tersebut, al-Quran telah memberikan motivasi dan inspirasi kepada umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan sehingga melahirkan jenis budaya tertentu. Dialog intelektual yang dilakukan secara kreatif oleh umat Islam terhadap al-Quran ternyata telah menghasilkan generasi umat yang dipenuhi kreatif. Sejarah telah membuktikan keunggulan budaya umat Islam pada masa klasik yang disebabkan dialog terhadap al-Quran. Al-Quran adalah satu-satunya wahyu Allah yang masih ada hingga sekarang. Ia merupakan kitab suci yang tidak pernah tercampur dengan kebatilan dari mana pun dan tidak ada sesuatu pun yang diragukan dari padanya (QS. Al-Baqarah (2):2). Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa Keadaan Al-Quran, sejak diturunkan pada lima belas abad yang silam sampai saat ini, tidak ada pengurangan atau penambahan sedikit pun terhadapnya. Semua ini merupakan jaminan dan penjagaan atasnya yang telah dijanjikan dan diberikan oleh Allah SWT (QS. Al-Hijr (15):9). Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Sebagai umat yang dipilih Allah untuk menerima kitab yang mulia ini, sudah seharusnya apabila umat Islam menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan mengaktualisasikan dirinya secara aktif dan kreatif. tulisan ini akan mencoba untuk melihat kembali posisi Al-Quran dalam kehidupan umat Islam. Bagaimana kiranya apabila Al-Quran dilihat dari perspektif budaya.
Pembahasan
1. Al-Quran dalam Lintasan Sejarah Al-Quran yang dimiliki umat Islam sekarang ini adalah juga Al-Quran yang dahulunya telah mempersatukan suku-suku, menghimpun yang berserakan, mempertemukan hati, menciptakan umat, mengokohkan sendi-sendi peradaban, dan telah membawa umat Islam mencapai puncak kemajuannya. Seperti diketahui, karena dorongan dan petunjuk Al-Quranlah umat Islam pada masa klasik untuk beberpa abad menjadi umat yang kreatif, dinamik, terbuka, dan punya rasa percaya diri yang tingggi. Melalui modal tersebut, umat Islam tidak merasa canggung untuk bergumul dengan peradaban lainnya, seperti Yunani, Persi, India, dan kemudian Turki. Pergumulan ini kemudian berhasil membuahkan suatu identitas diri dan suatu peradaban yang khas Islam yang kosmopolitan. Para sarjana Muslim dan non-Muslim pun sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak dapat membayangkan munculnya gerakan renaisans di Eropa tanpa dorongan dan kontribusi umat Islam ketika itu. Tetapi sejak kira-kira permulaan abad ke-15, sekalipun di bidang politik dan militer umat Islam masih unggul, di bidang pemikiran dan intelektual pada umumnya umat Islam mulai memasuki proses kejumudan dan kebekuan. Karya-karya kreatif yang bernilai tinggi tidak lagi bermunculan. Sejak periode tersebut umat Islam terbelenggu dengan tradisi taklid dan umat Islam terjebak dalam pengulangan-pengulangan karya-karya terdahulu. Karya-karya yang lahir terbatas pada bentuk komentar atau ulasan, tanpa mempunyai kemampuan untuk menampilkan orisinalitas pemikiran, apakah itu dalam bidang hukum, filsafat, ilmu dan tekonologi, atau pun dalam bidang sosial kemanusiaan. Umat Islam harus membaca kembali Al-Quran secara benar. Membaca tidak hanya dalam pengertian tartil, melainkan membaca yang diikuti dengan pemahaman dan analisis yang kritis. Membaca Al-Quran berarti mempelajari, memahami, manganlisa, dan mengungkap semua pesan dan kandungan yang terdapat di dalamnya. Sebagimana telah disebutkan di atas, Al-Quran telah membuktikan dirinya mampu membentuk jiwa, membangun bangsa dengan peradaban yang tinggi. Al-Quran harus kembali didialogkan dengan akal pikiran sehingga melahirkan umat Islam dan kaum Muslimin yang dinamis, kreatif, dan berbuat banyak untuk kemaslahatan alam semesta.
2. Al-Quran dalam Perspektif Budaya Al-Quran merupakan sumber kebudayaan yang sangat kaya. Al-Quran, seperti telah dibuktikan dalam lintasan sejarah umat Islam, berperan sebagai poros atau sumber utama kehidupan kaum Muslimin. Al-Quran dalam kehidupan umat Islam telah berfungsi sebagai sumber petunjuk, sumber inspirasi, dan sumber semangat. Ketika umat Islam, baik secara perseorangan maupun kelompok, melakukan dialog intelektual dengan Al-Quran, maka akan menghasilkan buah yang sangat lezat dan nikmat untuk dirasakan. Umat Islam akan merasakan dan sekaligus menikmati manfaat yang luar biasa dari petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya. Apabila seseorang mencoba untuk mempelajari sejarah Al-Quran, maka tujuan yang utama dari diturunkannya Al-Quran adalah sebagai kitab petunjuk, seraya mengutip surat al-Baqarah (2):185 Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Dari sisi Al-Quran sebagai kitab yang memberikan petunjuk kepada manusia sehingga dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan tujuan penciptaan terlihat dari tiga petunjuk utamanya. Pertama, Al-Quran memuat akidah dan kepercayaan yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepastian akan datangnya hari pembalasan. Kedua, Al-Quran memuat syariah dan hukum-hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Allah dan sesamanya. Ketiga, Al-Quran memuat petunjuk mengenai akhlak dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif. Apabila umat Islam secara aktif melakukan dialog intelektual dengan Al-Quran atas tiga petunjuk tersebut dan mempertemukannya dengan petunjuk-petunjuk operasional yang dilakukan oleh Nabi Muihammad SAW sungguh akan melahirkan corak kesadaran keagamaan yang tinggi. Dalam prakteknya, umat Islam akan mengalami transformasi spiritual secara penuh yang tidak kering. Perilaku umat Islam betul-betul akan mencerminkan perpaduan yang indah antara keberimanan dan amal yang shaleh. Pada saat yang bersamaan, ketika dialog itu terus berlanjut, maka sejumlah cabang keilmuan yang bercorak keagamaan pun akan lahir. Berapa banyak cabang keilmuan yang telah lahir sebagai akibat dialog intelektual yang berkaitan dengan masalah ketuhanan; demikian juga dengan keilmuan yang lahir akibat dialog intelektual dengan masalah syariah dan akhlak. Kebudayaan satu daerah belum tentu sesuai dengan daerah lainnya karena kebanyakan kebudayaan bersifat local. Orang Arab yang tinggal di gurun pasir tentunya tidak akan nyaman bila menggunakan pakaian 'you can see' yang sering digunakan orang Barat. Orang Barat yang hidup di tengah hiruk pikuk kota tentunya tidak akan setuju jika diberlakukan kegiatan 'siskamling' yang sudah menjadi budaya orang Indonesia di pedesaan. Penduduk di pedesaan Indonesia tentunya tidak akan bisa bertahan hidup dalam bingkai 'individualistis' yang sudah menjadi trade mark bangsa Barat. Berbabagai cabang keilmuan yang bercaorak keagamaan ketika umat Islam melakukan dialog intelektual dengan Al-Quran secara representatif. Dengan demikian, dialog intelektual umat Islam dengan Al-Quran sebagai kitab petunjuk akidah, syariah dan khlak tidak saja telah melahirkan perilaku atau budaya tertentu yang didasarkan pada Al-Quran, tetapi juga produk-produk lain dalam bentuk lahirnya berbagai cabang keilmuan keagamaan. Oleh karena itu, Al-Quran telah memberikan sumbangan yang besar dan kaya terhadap khazanah kebudayaan manusia, khususnya umat Islam, dan masyarakat dunia pada umumnya. Al-Quran berperan sebagai kitab petunjuk, al-Quran juga memuat ajakan kepada umat Islam dan manusia pada umumnya untuk membaca alam dan merenungkan segala rahasia yang terdapat dalam ciptaan Allah. Salah satu faktor penting yang terdapat dalam Al-Quran adalah selain ayat-ayatnya berbicara tentang kehidupan makhluk Allah, Al-Quran juga mengarahkan agar manusia melakukan dialog dengan seluruh ciptaan Allah. Jika demikian, apakah hubungannya Al-Quran dengan ilmu pengetahuan?. Membahas hubungan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan bukanlah dengan cara, misalnya dengan mengatakan adakah teori politik, teori ekonomi, dan teori-teori lainnya dalam Al-Quran; tetapi yang lebih utama adalah dengan melihat adakah jiwa ayat-ayat yang terdapat dalam al-Quran menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah ayat-ayat di dalam Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?. Oleh karena itu, posisi Al-Quran di sini adalah sebagai sumber motivasi dan inspirasi bagi lahir dan berkembangnya ilmu pengetahuan bukan merupakan sumber segala ilmu. Al-Quran bukanlah buku pelajaran kosmologi, biologi, atau sains pada umumnya. Al-Quran menurutnya harus dibaca sebagaimana seorang detektif membaca dan meneliti terjadinya suatu peristiwa. Dengan membaca garis-garis besar yang terdapat dalam Al-Quran, umat Islam dituntun untuk membaca seluruh ciptaan-Nya secara rinci, QS. Yunus, 101. Artinya: Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". Pada saat manusia membaca dan mencermati kehidupan ciptaan Allah yang ada di angkasa, kira-kira berapa banyak cabang ilmu pengetahuan yang lahir dari padanya?. Pada saat manusia membaca dan mencermati ciptaan Allah di daratan, berapa banyak cabang ilmu pengetahuan yang lahir dari padanya?. Sesaat manusia membaca dan mencermati dirinya sendiri dan interaksinya dengan orang lain dalam segala aktivitasnya, seperti dalam kegiatan politik, sosial, ekonomi, dan lainnya, berapa banyak cabang ilmu pengetahuan yang lahir daripadanya?. QS. al-Qomar (54) 49 Artinya: Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekholifahannya . QS. Al-Baqoroh 31-32 Artinya: 31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Sebagai akibat dari respon umat Islam dan manusia pada umumnya terhadap apa pun yang merupakan ciptaan Allah (al-Khaliq) baik di langit maupun bumi ternyata telah melahirkan kebudayaan dan peradaban yang sangat kaya dan beraneka ragam. Dalam posisi ini Al-Quran merupakan sumber inspirasi yang telah memotivasi kreativitas dan dinamika umat manusia dalam ruang lingkup yang tidak terbatas. Ketika dialog intelektual terus dilakukan terhadap Al-Quran dalam bentuk respon umat Islam terhadap ciptaan Allah dan sepanjang hal itu tetap berada dalam payung Al-Quran, maka ilmu yang lahir dari padanya bersifat Qur.ani. Dengan demikian semua implikasi yang bersifat mengiringi ilmu-ilmu tersebut dengan sendirinya juga bersifat Qurani. Dalam perkataan yang lain, dialog intelektual umat Islam terhadap Al-Quran dengan sendirinya akan melahirkan produk budaya, baik berupa pemikiran, aturan-aturan, hukum-hukum, perilaku individu dan kolektif, serta produk-produk material lainnya, yang bersifat Qurani dan sekaligus Islami. Al-Qur’an melukiskan nabi dan umatnya dalam QS. Al-Fath 29. Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Ayat di atas mengisyaratkan perkembangan dan pertumbuhan umat islam. Jumlah umat nabi yang tidak terbatas oleh angka tertentu dan akan terus bertambah. Di sisi lain mereka juga akan berkembang dan mengalami kemajuan. Sebagai kitab suci yang bertujuan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia di mana dan kapan pun, dapat dipastikan bahwa Al-Quran senatiasa akan berhadapan dan berdialog dengan beraneka macam budaya. Dari sudut pandang ini, ketika budaya dimaknakan sebagai suatu model pendekatan terhadap Al-Quran, maka Al-Quran bisa berfungsi meluruskan, dan menolak sama sekali budaya tersebut. Sudah lumrah diketahui bahwa posisi Al-Quran terhadap kebudayaan Arab misalnya, adalah berkisar pada tiga fungsi di atas. Al-Quran misalnya meluruskan posisi anak perempuan di atas anak laki-laki mereka. Al-Quran juga menolak untuk menerima cara-cara jahiliyah yang melakukan praktek riba. Tanpa bermaksud mengingkari tiga fungsi di atas, ketika Al-Quran berhadapan dengan suatu budaya, akan terjadi dialog yang kreatif di antara keduanya. Berkembangnya model penafsiran terhadap Al-Quran sejak masa klasik Islam sampai dengan masa modern dapat dijadikan bukti telah terjadinya dialog yang kreatif antara Al-Quran dengan perkembangan budaya manusia. Berkembangnya model-model tafsir Al-Quran seperti tafsir bi al-Ma’tsur, bi al-Ra’yi (Penalaran), Shufy (Tasawuf), Fiqhy (Fiqh), Falsafy (Filsafat), Ilmy (Ilmiah atau Ilmu Pengetahuan), dan Abady (Kemasyarakatan) menguatkan adanya kontekstualitas al-Quran terhadap kecenderungan budaya manusia.
Kesimpulan
1. Al-Quran merupakan kitab suci yang tujuan utamanya adalah menjadi petunjuk kehidupan bagi manusia. Mengikuti petunjuk dalam al-Quran, manusia akan bergerak ke jalan yang searah dengan tujuan penciptaannya.
2. Al-Quran telah membuktikan dirinya sebagai kitab petunjuk yang berhasil membentuk kehidupan sosial yang memiliki keseimbangan material dan spiritual. Syarat yang harus ditempuhnya adalah dilakukannya dialog yang kreatif dan terus menerus, sehingga al-Quran menjadi ruh dalam suatukehidupan. Dialog intelektual yang dilakukan secara kreatif dan terus menerus terhadap al-Quran pada saatnya akan melahirkan jenis kebudayaan tertentu yang bersifat Qurani. Kebudayaan yang lahir, baik dalam bentuk pemikiran, atauran-aturan, tatanan sosial, maupun yang bercorak material, tidak akan lepas dari jiwa al-Quran.
3. Apabila al-Quran dihadapkan dengan suatu jenis kebudayaan tertentu, setidaknya ada tiga fungsi yang melekat padanya, yaitu memberikan legitimasi, meluruskan (memperbaiki), atau menolak sama sekali.






0 komentar:
Posting Komentar